33 Tahun Terpisah, Akhirnya Kembali Berkumpul: Reuni Takhassush Putra PPMI Assalaam Punggawan Angkatan 1992

Ada pertemuan yang direncanakan dengan matang. Ada pula pertemuan yang ternyata jauh lebih berkesan justru karena kesederhanaannya.

Begitulah kira-kira yang kami rasakan dalam Reuni Takhassush Putra PPMI Assalaam Punggawan Angkatan 1992, yang diselenggarakan pada 14–17 Agustus 2026 di Gresik.

Setelah kurang lebih 33 tahun berlalu sejak masa-masa kami bersama di Assalaam, akhirnya kami kembali duduk bersama, bercengkerama, saling meledek, tertawa lepas, dan mengenang cerita-cerita lama.

Dan yang menarik, reuni kali ini sebenarnya tidak dihadiri oleh banyak orang.

Hanya 20 Orang, tetapi Rasanya Seperti Kembali ke Masa Lalu

Dari sekitar 100-an alumni Takhassush Putra PPMI Assalaam angkatan 1992, panitia baru berhasil menghubungi kurang lebih 60 orang. Dari jumlah tersebut, hanya sekitar 20 alumni yang menyatakan bersedia hadir. Secara angka mungkin terlihat sedikit. Tetapi ternyata, jumlah bukanlah ukuran keseruan sebuah reuni.

Begitu satu per satu teman berdatangan, suasana langsung berubah. Obrolan mengalir begitu saja. Tidak perlu banyak basa-basi. Tidak perlu waktu lama untuk kembali akrab. Seolah-olah jarak 33 tahun itu tidak pernah ada. Tawa, candaan, cerita masa lalu, hingga saling meledek menjadi warna sepanjang pertemuan.

Ada sesuatu yang sulit dijelaskan ketika bertemu kembali dengan teman yang pernah menjadi bagian dari kehidupan kita puluhan tahun lalu. Wajah mungkin sudah berubah, rambut banyak yang memutih, badan sudah tidak seperti dulu, tetapi rasa persaudaraannya ternyata masih sama.

Mungkin itulah yang sebenarnya kami rindukan.

Bukan sekadar bertemu orang-orang dari masa lalu, tetapi merasakan kembali kebersamaan yang dulu pernah begitu dekat.

Terima Kasih untuk Tuan Rumah, Syafullah Mahdi

Reuni kali ini berlangsung di Gresik dan memiliki cerita tersendiri karena kami mendapatkan kesempatan untuk berkumpul bersama di tempat yang sangat istimewa. Tuan rumah reuni kali ini adalah Syafullah Mahdi, salah satu sahabat kami, yang saat ini menjadi pemilik Warung KAE sekaligus memiliki tambak bandeng di Gresik.

Warung KAE menjadi salah satu tempat kami berkumpul, makan, ngobrol, dan tentu saja bernostalgia. Sedangkan tambak bandeng milik Syafullah Mahdi menjadi salah satu tujuan yang memberikan pengalaman berbeda dalam reuni kali ini. Kami tentu sangat berterima kasih atas sambutan, tempat, jamuan, dan segala kebaikan yang diberikan oleh Syafullah Mahdi beserta keluarga. Berkat kemurahan hati tuan rumah, reuni ini terasa semakin hangat dan kekeluargaan.

Sabtu Pagi: Menikmati Semilir Angin di Tambak Bandeng

Sebagian besar peserta mulai berdatangan pada Sabtu, 15 Agustus 2026. Setelah berkumpul, pagi itu kami berjalan menuju tambak bandeng. Tidak ada acara yang terlalu formal. Kami hanya berjalan bersama, menikmati suasana, melihat hamparan tambak, merasakan semilir angin, sambil terus bercengkerama. Justru dalam suasana sederhana seperti itulah keakraban terasa semakin kuat.

Satu cerita memancing cerita lainnya. Satu candaan disambut candaan berikutnya. Sesekali ada yang mengenang kejadian masa sekolah dulu, kemudian disambut tawa teman-teman yang masih mengingat cerita yang sama.

Rasanya seperti kembali menjadi anak-anak Assalaam. Bedanya, sekarang kami sudah membawa cerita hidup masing-masing.

Makan Siang dengan Hasil Panen Tambak

Perjalanan ke tambak tentu saja tidak lengkap tanpa makan bersama. Yang membuatnya semakin istimewa, menu makan siang berasal dari hasil panen tambak. Ada Kelo Sembilang, udang goreng, dan berbagai hidangan lainnya.

Makan bersama seperti ini mungkin terlihat sederhana. Tetapi setelah puluhan tahun tidak duduk bersama, satu meja dengan teman-teman lama terasa seperti hidangan yang sangat istimewa. Bukan karena menunya saja. Tetapi karena siapa yang duduk bersama kita di meja tersebut.

Sore Hari: Menyusuri Gresik hingga Madura

Setelah puas bercengkerama di tambak, sore harinya rombongan melanjutkan perjalanan. Kami jalan-jalan menuju kota Gresik, menikmati suasana kota sekaligus berburu kuliner. Salah satu yang tidak dilewatkan tentu saja Nasi Krawu, kuliner khas Gresik yang sudah begitu terkenal.

Dari sana, perjalanan berlanjut ke Makam Sunan Ampel. Perjalanan ini bukan hanya soal wisata. Ada kesempatan untuk berziarah, berdoa, sekaligus menikmati perjalanan bersama teman-teman yang sudah lama tidak bertemu. Setelah itu, perjalanan dilanjutkan lagi.

Gas ke Madura!

Perjalanan malam pun menjadi bagian dari keseruan reuni. Di dalam kendaraan, obrolan dan canda tidak berhenti. Bahkan perjalanan pulang pun terasa singkat karena suasana begitu ramai dan penuh cerita.

Ahad Pagi: Kepala Manyung dan Obrolan yang Tak Ada Habisnya

Minggu pagi, 16 Agustus, sebelum sebagian besar peserta kembali ke kota masing-masing, kami menyempatkan diri untuk sarapan bersama. Tujuannya adalah Warung Makan Kepala Manyung.

Setelah sarapan, rombongan kembali ke Warung KAE. Dan ternyata, agenda terakhir ini justru kembali menjadi sesi yang panjang. Bukan karena ada acara khusus. Tetapi karena masih banyak cerita yang belum selesai. Masih banyak candaan yang belum tuntas. Masih banyak kenangan yang ingin diceritakan. Dan mungkin, masih ada rasa enggan untuk mengatakan:

“Sampai jumpa lagi.”

Karena kita tahu, setelah ini masing-masing akan kembali menjalani kehidupan, pekerjaan, keluarga, dan kesibukannya masing-masing.

Reuni Ini Mengajarkan Satu Hal. Awalnya mungkin ada kekhawatiran. Dari 100-an alumni, hanya sekitar 60 yang berhasil dihubungi. Dan dari 60 orang itu, hanya sekitar 20 yang akhirnya hadir. Namun setelah semuanya berkumpul, kekhawatiran itu seolah tidak ada artinya. 20 orang ternyata sudah cukup untuk membuat reuni terasa sangat hidup.

Yang membuat reuni berkesan bukan berapa banyak orang yang datang. Bukan pula seberapa mewah acaranya. Tetapi rasa yang hadir di antara orang-orang yang berkumpul.

Rasa rindu.

Rasa persaudaraan.

Rasa ingin kembali bercanda seperti dulu.

Dan rasa bahagia karena ternyata setelah 33 tahun, kami masih bisa duduk bersama tanpa merasa menjadi orang asing.

Yang Kami Rindukan Ternyata Bukan Masa Lalunya.

Mungkin selama ini kita mengira bahwa yang kita rindukan adalah masa sekolah. Ternyata bukan hanya itu. Yang kami rindukan adalah kebersamaan. Dulu, bertemu setiap hari adalah sesuatu yang biasa. Sekarang, untuk duduk bersama dalam satu meja saja, kami harus menunggu puluhan tahun.

Dulu, bercanda bersama tidak perlu direncanakan. Sekarang, untuk bisa tertawa bersama, perlu membuat grup WhatsApp, mencari kontak yang hilang, mengatur waktu, menentukan tempat, dan mengumpulkan orang-orang yang sudah tersebar di berbagai tempat. Dan ketika akhirnya semua itu terjadi…Kami sadar bahwa persaudaraan yang pernah dibangun puluhan tahun lalu ternyata belum hilang. Ia hanya sempat tertutup oleh jarak dan kesibukan.

Reuni inilah yang membukanya kembali.

Sampai Jumpa di Reuni Berikutnya

Reuni Takhassush Putra PPMI Assalaam Punggawan Angkatan 1992 mungkin telah selesai.

Tetapi semoga silaturahminya tidak ikut selesai.

Terima kasih kepada seluruh teman-teman yang telah hadir, memberikan doa, waktu, tenaga, dan dukungan sehingga pertemuan ini dapat terlaksana. Terima kasih khusus kepada Syafullah Mahdi dan keluarga sebagai tuan rumah yang telah menerima kami dengan begitu hangat.

Dan tentu saja, terima kasih kepada semua sahabat yang telah membuat beberapa hari di Gresik menjadi kenangan yang sulit dilupakan.

33 tahun ternyata bukan waktu yang cukup untuk menghapus rasa persaudaraan.

Semoga Allah SWT selalu memberikan kesehatan, umur panjang, keberkahan, dan kebahagiaan kepada kita semua.

Dan semoga kita tidak perlu menunggu 33 tahun lagi untuk kembali berkumpul.

Karena ternyata, kita masih sama-sama merindukan suasana itu.

Salam akrab dan persaudaraan selalu.

Takhassush Putra PPMI Assalaam Punggawan
Angkatan 1992 ❤️

You may also like...

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *