ASRAMA BUKAN HANYA TEMPAT TINGGAL, TAPI RUANG AMANAH DAN RELASI BATIN
Oleh: Ade Machnun S – Lc., M.Psi.*)
==
Ketika seorang anak dititipkan ke pesantren atau asrama, yang berpindah bukan hanya tubuhnya.
Yang ikut berpindah adalah jiwanya, sejarah relasinya, serta kebutuhan batinnya untuk merasa aman dan diakui.
Secara lahiriah, santri terlihat sudah cukup besar.
Sudah bisa mengurus diri.
Sudah memahami aturan.
Sudah mampu bertanggung jawab.
Namun dari sudut pandang psikoanalisis, kedewasaan lahiriah tidak selalu sejalan dengan kematangan batin.
Di balik kerapian pakaian dan kepatuhan jadwal, jiwa remaja masih sangat peka terhadap relasi, nada suara, cara ditegur, dan posisi dirinya di hadapan figur otoritas.
Di sinilah asrama bekerja bukan sekadar sebagai sistem disiplin,
tetapi sebagai ruang relasi batin yang sangat hidup.
RELASI SENIOR–JUNIOR: BUKAN HANYA STRUKTUR, TAPI MAKNA
Dalam kehidupan asrama, relasi senior–junior sering dipahami secara fungsional:
yang lama membimbing yang baru,
yang senior menegur junior,
yang junior belajar patuh.
Namun bagi jiwa anak, senior tidak hadir sebagai “jabatan”.
Ia hadir sebagai figur relasional.
Tanpa disadari, senior bisa mengambil posisi batin sebagai:
- kakak yang ditakuti atau diidealkan,
- orang tua yang menilai atau melindungi,
- atau figur yang menentukan apakah ia “cukup baik” atau tidak.
Maka tidak heran, satu teguran sederhana bisa terasa sangat melukai.
Bukan karena aturannya.
Melainkan karena makna relasional yang dibawanya.
KETIKA REAKSI ANAK TERLIHAT BERLEBIHAN
Ada santri yang setelah ditegur menjadi sangat pendiam.
Ada yang tampak patuh, tapi menyimpan marah.
Ada pula yang membalas dengan sikap menantang atau sinis.
Dari luar, ini sering dibaca sebagai:
“Kurang dewasa.”
“Tidak siap mondok.”
“Kurang disiplin.”
Namun dari kacamata psikoanalis, sering kali yang terjadi adalah regresi batin sementara.
Ego anak menyempit.
Afek lama muncul kembali.
Relasi masa lalu dengan figur otoritas ikut aktif.
Anak tidak sedang “kurang ajar”.
Sering kali ia sedang bertahan secara batin.
ASRAMA SEBAGAI AMANAH, BUKAN HANYA PENGAWASAN
Dalam tradisi pesantren, mendidik bukan sekadar mengatur perilaku,
tetapi menjaga amanah jiwa.
Amanah ini bukan hanya agar anak taat,
melainkan agar ia:
- merasa cukup aman untuk belajar,
- cukup dihargai untuk bertumbuh,
- dan cukup dipercaya untuk membentuk superegonya secara sehat.
Cara menegur, cara memberi batas, dan cara memposisikan senior bukan soal teknik semata,
melainkan soal relasi batin yang sedang dibangun.
PERAN WALI SANTRI DAN PENGASUH
Bagi wali santri, penting untuk menyadari bahwa:
anak mungkin tidak selalu menceritakan luka relasionalnya,
tetapi tubuh dan perilakunya sering kali menjadi bahasa penggantinya.
Bagi guru pengasuh dan senior, penting untuk menyadari bahwa:
setiap teguran bukan hanya pesan moral,
tetapi juga peristiwa emosional bagi jiwa yang sedang tumbuh.
Dalam psikoanalisis, apa yang tidak tertata dalam kata-kata sering kali akan dipentaskan dalam perilaku.
PENUTUP
Asrama bukan hanya tempat anak tinggal sementara.
Ia adalah ruang pembentukan batin,
tempat relasi lama dipanggil kembali,
dan tempat relasi baru bisa menjadi penyembuh atau justru meninggalkan luka.
Disiplin tetap penting.
Aturan tetap perlu.
Namun tanpa pemahaman relasi batin, disiplin mudah berubah menjadi tekanan.
Bukan kerasnya aturan yang paling membentuk anak.
Melainkan bagaimana ia merasa diperlakukan di dalam relasi.
Di situlah amanah pendidikan bekerja—
bukan hanya membentuk perilaku,
tetapi menjaga jiwa yang Allah titipkan.
=
Alumni 2003, (walisantri ananda M. Abdurrazaq santri TQS Assalaam Tepus) seorang psikoterapis psikoanalisis, Membantu individu dan keluarga memahami diri, mengurai persoalan remaja, serta memulihkan keharmonisan hidup melalui pendekatan psikologis yang ilmiah, manusiawi, dan selaras dengan nilai agama serta budaya.




