Anak Muda Beli Fesyen Lokal Online: Bukan Cuma Soal Cinta Indonesia (Ini Faktanya)

Pernah nggak sih kamu buka Shopee atau Tokopedia cuma niat “lihat-lihat”, tapi tiba-tiba checkout sepatu lokal karena…
👉 temenmu pakai,
👉 influencer favoritmu review,
👉 atau satu grup WhatsApp rame ngomongin brand itu?

Kalau iya, kamu nggak sendirian.

Di balik ramainya fesyen lokal di e-commerce, ada satu fakta menarik: keputusan beli anak muda Indonesia ternyata lebih dipengaruhi lingkungan sosial daripada sekadar rasa nasionalisme. Dan ini bukan asumsi kosong—ada datanya.

Artikel ini akan ngebedah:

  • Kenapa produk fesyen lokal makin laku di online
  • Faktor psikologis paling kuat yang bikin orang akhirnya klik “Beli Sekarang”
  • Dan yang paling penting: apa pelajaran praktisnya buat UMKM dan brand lokal

Tenang, kita nggak akan pakai bahasa ribet. Anggap aja ini obrolan santai sambil ngopi ☕

Kenapa Fesyen Lokal Lagi “Naik Daun” di Online?

Beberapa tahun terakhir, e-commerce di Indonesia bukan cuma tempat transaksi. Ia berubah jadi ruang budaya.

Di sana:

  • Brand sepatu lokal lahir dari garasi
  • Clothing line indie dapet panggung
  • Produk UMKM bisa sejajar dengan brand besar

Anak muda sekarang:

  • Lebih pede pakai produk lokal
  • Lebih sering nemu brand lewat media sosial
  • Lebih gampang beli karena semua ada di HP

Tapi pertanyaannya:
apa yang benar-benar bikin mereka beli?

Apakah:

  • karena “Bangga Buatan Indonesia”?
  • karena harga?
  • atau karena ikut-ikutan?

Jawabannya ternyata lebih kompleks—dan lebih menarik.

Cara Sederhana Memahami Pola Pikir Pembeli Anak Muda

Supaya gampang, kita ringkas jadi tiga faktor utama yang biasanya menentukan niat beli seseorang.

1. “Menurut Gue Ini Worth It Nggak?”

Ini soal sikap pribadi.

Contohnya:

  • Desainnya keren nggak?
  • Kualitasnya masuk akal?
  • Harganya sepadan?

Kalau jawaban di kepala pembeli adalah “iya”, peluang beli naik.

2. “Kata Temen Gue Gimana?”

Nah… ini faktor paling kuat.

Lingkaran sosial punya pengaruh besar:

  • Teman
  • Keluarga
  • Influencer
  • Komunitas

Kalau banyak yang bilang:

“Eh, ini brand lokal bagus loh”

Maka secara nggak sadar, otak kita mikir:

“Berarti aman dan layak dicoba.”

Dan faktanya?
👉 Inilah faktor TERKUAT dalam keputusan beli.

Nilai pengaruhnya paling tinggi: 0,524.

Artinya:

rekomendasi sosial jauh lebih menentukan dibanding faktor lain.

3. “Gampang Nggak Belinya?”

Sesimpel ini:

  • Checkout ribet → batal
  • Loading lama → close app
  • Ongkir nggak jelas → mikir ulang

Semakin mudah prosesnya, semakin besar kemungkinan orang beli.

Lalu… Gimana dengan Nasionalisme?

Ini bagian paling menarik.

Banyak orang mengira:

“Anak muda beli produk lokal karena cinta Indonesia.”

Ternyata… nggak sesederhana itu.

Fakta yang Agak Ngena:

  • Rasa nasionalisme memang bikin orang berpikir positif soal produk lokal
  • Tapi pengaruh langsungnya ke niat beli justru negatif (-0,085)

Lho, kok bisa?

Penjelasan Simpelnya Begini 👇

Ada dua dorongan yang main barengan:

1. Dorongan dari dalam (nasionalisme)

“Gue pengen dukung produk Indonesia.”

2. Dorongan dari luar (lingkungan sosial)

“Temen-temen gue pakai ini dan bilang bagus.”

Ketika dorongan dari luar sudah sangat kuat, dorongan dari dalam jadi:

  • bukan faktor utama
  • bahkan cenderung “ketutup”

Dengan kata lain:

Kalau semua temenmu sudah pakai brand lokal itu, kamu nggak perlu lagi alasan patriotik untuk beli.

Jadi, Apa Artinya Buat Brand Lokal & UMKM?

Ini bagian paling penting.

1. Bangun Komunitas, Bukan Cuma Jual Produk

Karena faktor sosial paling kuat, fokuslah ke:

  • Testimoni asli
  • User-generated content
  • Review jujur
  • Micro influencer (bukan cuma yang followers-nya gede)

Bikin orang merasa:

“Pakai brand ini tuh bagian dari circle gue.”

2. Nasionalisme Tetap Penting, Tapi Jangan Jadi Senjata Utama Jualan

Pesan “Bangga Buatan Indonesia” itu:

  • Bagus untuk branding
  • Bagus untuk citra
  • Bagus untuk awareness

Tapi untuk konversi penjualan, yang lebih ngaruh adalah:

  • Bukti sosial
  • Cerita pengguna
  • Validasi komunitas

3. Permudah Segalanya

Beberapa hal kecil tapi krusial:

  • Foto produk jelas
  • Deskripsi nggak ribet
  • Checkout singkat
  • Respons cepat

Setiap hambatan kecil = potensi kehilangan pembeli.

Simulasi Sederhana (Biar Kebayang)

Bayangin ada dua brand lokal:

Brand A

  • Kampanye nasionalisme kuat
  • Tapi review minim
  • Checkout ribet

Brand B

  • Banyak dipakai influencer kecil
  • Review rame
  • Checkout cepat

Pertanyaannya:
👉 brand mana yang lebih sering dibeli?

Jawabannya hampir pasti Brand B.

Bukan karena Brand A jelek.
Tapi karena keputusan beli itu sosial.

Kesalahan Umum yang Sering Dilakukan Brand Lokal

  • Terlalu mengandalkan jargon patriotik
  • Kurang mendorong review pelanggan
  • Fokus ke iklan, lupa komunitas
  • Menganggap pembeli rasional sepenuhnya (padahal emosional & sosial)

Penutup: Ini Kabar Baik Buat UMKM

Kabar baiknya:

  • Kamu nggak harus brand besar
  • Kamu nggak harus modal iklan besar
  • Kamu nggak harus pakai narasi heroik berlebihan

Yang kamu butuhkan:

  • Produk yang layak
  • Pengalaman beli yang mudah
  • Dan orang-orang yang mau cerita tentang brand kamu

Karena di era digital,
keputusan beli bukan soal “gue cinta Indonesia” saja—tapi “circle gue percaya brand ini”.

Kalau kamu pelaku UMKM atau brand lokal, mungkin sekarang saatnya bertanya:

“Sudahkah brand gue jadi bahan obrolan yang menyenangkan di lingkaran pelanggan?”

Kalau belum, tenang.
Itu artinya peluangmu masih terbuka lebar. 💚

Sumber Jurnal: https://journal.ugm.ac.id/v3/jieb/article/view/9131/5427 [Download]

==

Penulis: IKMAS 1999 Dwi Kartikasari dkk

SchoolofBusinessandEconomics,UniversitiBruneiDarussalam,Bandar Seri Begawan, BE1410, Brunei Darussalam

JurusanManajemenBisnis,PoliteknikNegeriBatam,Batam,29461,Indonesia

📝 Artikel ini merupakan bagian dari seri “Profil Alumni Forum Dosen Melalui Karyanya.”
Kami percaya bahwa ilmu bukan hanya untuk disimpan, tapi untuk dibagikan dan menginspirasi.

📬 Bagi teman-teman dosen atau alumni yang ingin mengirimkan artikel, refleksi, atau kisah inspiratif tentang karya dan pengalaman akademik, silakan kirimkan tulisan ke: blog.ikmas@gmail.com

Mari terus menulis, berbagi, dan memberi makna lewat ilmu 🌱

You may also like...

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *